PENGERTIAN ESAI DAN JENISNYA

Di dalam rubrik sastra koran atau media massa biasanya menyediakan sebuah kolom esai. Rubrik esai sering kali ditayangkan di akhir pekan bersamaan dengan cerita pendek (cerpen) atau puisi/sajak. Tiap penulis pasti memiliki kemampuan di bidang masing-masing, entah menulis opini, cerita pendek (cerpen), puisi/sajak, atau karya lainnya. Sebelum lebih jauh membahas soal esai, alangkah lebih baik mengetahui terlebih dulu apa itu esai.

Di dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan bahwa: esai /ésai/ n karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya. Dari pengertian ini setidaknya bisa disimpulkan bahwa membuat esai hampir sama seperti membuat opini, hanya saja esai sering kali identik dengan dunia sastra.

Ada beberapa jenis esai, di antaranya:

1. Esai Deskriptif (des·krip·tif /déskriptif/ a bersifat deskripsi; bersifat menggambarkan apa adanya): Esai deskriptif cenderung mengungkapkan hal-hal sederhana dan seperti apa adanya. 

2. Esai Kritik: Esai ini lebih memusatkan pada uraian tentang suatu kajian semisal seni, atau bidang lain. 

3. Esai Pribadi: Dari pengertiannya, esai pribadi lebih mengedepankan pandangan pribadi secara kuat dan menonjol.

4. Esai Reflektif: Jenis esai ini menuntut penulis lebih hati-hati dalam banyak hal. Selain itu, esai ini ditulis secara formal. Penulis harus menjaga tulisan agar tidak menyingguh hal-hal sensitif atau dengan kata lain esai ini ditulis secara objektif namun dalam wilayah formal.

5. Esai Tajuk: Esai jenis ini dapat dilihat dalam media massa dan majalah. Esai ini mempunyai satu fungsi khusus yaitu menggambarkan pandangan dan sikap media massa/majalah tersebut terhadap satu topik dan isu dalam masyarakat.

6. Esai Watak: Esai ini memperbolehkan seorang penulis membeberkan beberapa segi dari kehidupan individual seseorang kepada para pembaca. Lewat watak itu pembaca dapat mengetahui sikap penulis terhadap karakter yang dituangkan. Hanya saja dalam hal ini penulis esai tidak secara utuh menuliskan biografi seseorang.

Adapun contoh esai bisa baca DI SINI.

Rata-rata, esai yang dijumpai di koran atau media massa adalah jenis Esai Kritik. Namun media tetap memberi ruang kepada semua penulis esai untuk mengirimkan jenis esai lainnya. Perlu diketahui bahwa berhasil atau tidak esai ditayangkan oleh media juga tergantung dari seberapa baik penulis membuat esai. Baik yang dimaksud tentu menyangkut perihal teknis menulis maupun hal-hal secara esensi dari tulisan tersebut.
Baca selengkapnya


CARA KIRIM RESENSI KE TEMPO

Semua penulis yang pernah mengirim naskah ke koran pasti sudah tidak asing lagi dengan media satu ini, ya, koran TEMPO. Tentu saja media ini memberi ruang jurnalistik kepada semua penulis, bukan hanya artikel berita maupun opini, tapi juga menyediakan rubrik lain yakni rubrik sastra. Tak hanya itu saja, ada kolom resensi yang juga disediakan kepada para penulis resensi oleh media ini. Apakah Anda tertarik mengirim naskah resensi ke koran ini?

Bagi yang sudah terbiasa menulis resensi, tentu tak kebingungan terkait proses membuat ataupun mengirimkannya. Namun bagi para penulis resensi pemula yang ingin mengirimkan hasil resensi, berikut ini adalah tata cara mengirimkannya:
1. Siapkan Resensi;
Hal pertama dan utama adalah menyiapkan naskah resensi terlebih dulu. Jika sudah sesuai pedoman, silakan cek ulang sebelum mengirim ke alamat redaktur koran. Cek seluruh isi—terutama soal ejaan—karena editor sangat risih menerima naskah yang di dalamnya masih terdapat kekeliruan—sekecil apa pun kekeliruan tersebut berusahalah untuk memperbaikinya. Bahkan kekeliruan ejaan—di mata kurator—menjadi penyumbang terbesar mengapa naskah ditolak.

2. Format Pengiriman Naskah;
Naskah apa saja yang ingin dikirim usahakan sesuai ketentuan dari media bersangkutan. Tulis dengan format font Times New Roman (TNR) ukuran 12 pt, spasi 1,5 atau spasi ganda. Rata-rata untuk satu resensi berisi 4.000 (empar ribu) kata atau kurang lebih 2 lembar A4. Sertakan di dalam naskah biodata naratif penulis, nomor rekening, nomor pokok wajib pajak (NPWP) jika sudah punya, nomor telepon dan alamat lengkap sesuai KTP.

Berikut ini contoh/draf resensi:

*) JUDUL RESENSI (buat judul semenarik mungkin, sebab hal ini juga berpengaruh pada minat baca terhadap resensi yang sudah dibuat)

*) Format Isi Resensi:
- Judul Buku;
- Pengarang/Penulis;
- Penerbit;
- Ukuran Buku (Dimensi);
- Ketebalan/Jumlah Halaman;
- ISBN;
- Harga Buku.

*) Isi Resensi (narasi pembukaan, hasil pengamatan, penilaian, dan kesimpulan)

*) Biodata Singkat Naratif (Nama, Profesi, Tempat Tinggal—biasanya hanya 2—3 baris)

3. Menulis Kata Pengantar Email;
Sering kali penulis pemula kebingungan soal ini. Perlu diketahui bahwa tiap kali mengirim naskah, penulis harus menulis kata pengantar di badan email, bukan di sisipan atau di dalam naskah. Berikut ini adalah contoh kata pengantar pengiriman naskah:

Kepada Yth.
Dewan Redaksi (Kurator)
di Tempat

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Salam Sejahtera.

Dengan ini saya bermaksud mengirimkan hasil resensi saya atas buku [silakan tulis Judul Buku] kepada pihak Bapak/Ibu Redaktur (Kurator) untuk ditindaklanjuti, dikoreksi, dan ditayangkan. Besar harapan saya untuk bisa dimuat atau ditayangkan pada rubrik yang Bapak/Ibu kelola.

Demikian surat ini saya kirimkan. Ada kurang lebihnya, atau segala sesuatu yang kurang berkenan, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Terima kasih.

Salam.
NAMA PENULIS
ALAMAT PENULIS

4. Kirim ke Alamat Sekaligus dengan Cara yang Tepat;
Langkah berikutnya yang perlu dilakukan adalah mengirimkan resensi tersebut ke alamat yang tepat atau sesuai dengan yang diinginkan.

Perlu diingat, naskah harus dikirim dalam lampiran, bukan di badan email. Jadi harus dibedakan antara bidang Kata Pengantar dengan Isi Naskah. Kata Pengantar ditulis di badan email, sedangkan Isi Naskah diletakkan pada sisipan sesuai nomor 2 di atas.

Untuk pengiriman resensi ke koran TEMPO bisa ke email ini: sastra@tempo.co.id

5. Melampirkan Sampul Buku
Sebelum benar-benar mengirim hasil resensi, periksa kelengkapan data termasuk scan sampul depan buku. Silakan lampirkan sampul buku secara terpisah atau dijadikan satu file dalam naskah. Tiap penulis pasti memiliki cara dan pertimbangan masing-masing terkait hal ini, pasalnya masing-masing cara ada sisi lebih dan kekurangannya. Jika scan sampul dimasukkan ke dalam file naskah, risiko tertinggal atau lupa melampirkan sangatlah kecil karena setelah diterima, gambar sampul sudah jadi satu. Kelemahannya adalah kapasitas data atau file menjadi besar dan berdampak pada proses membuka file di komputer redaktur. Sebaliknya, apabila sampul dilampirkan secara terpisah kapasitas file tentu kecil dan mudah dibuka, hanya saja risiko tertinggal atau lupa melampirkan sering kali terjadi. Belum lagi jika ada kendala-kendala teknis lain sehingga sampul tidak bisa dikirimkan. Jadi, mau pilih cara yang mana tentu pihak penulis yang lebih mengetahui.

Setelah naskah terkirim, silakan tunggu apakah resensi tersebut lolos dan ditayangkan atau justru ditolak. Rata-rata, penulis yang mencari sendiri informasi perihal penayangan naskahnya. Apabila tidak mendapat konfirmasi, bisa cek ke media cetak bersangkutan.
Baca selengkapnya


ALASAN UTAMA NASKAH DITOLAK KOMPAS

Siapa yang tak kenal koran Kompas? Bagi sebagian kalangan media ini adalah barometer jurnalistik. Bahkan ada yang menganggap kalau belum tembus di media ini, kelas maupun karir kepenulisannya belum mumpuni. Meski tak semua menganggap demikian, namun tak dapat dipungkiri bahwa semua penulis berharap karyanya bisa ditayangkan di media ini. Bisa jadi, tiap hari seluruh penulis di negeri ini berlomba-lomba menulis serta mengirimkan hasil karyanya. Katanya, ketika naskah yang dikirim berhasil tayang—selain menambah dan menaikkan popularitas—honor yang diberikan sangat besar.

Bagi penulis yang karyanya belum pernah ditayangkan, barangkali perlu mengoreksi lebih mendalam terkait naskah yang sudah dibuat. Tapi, bagi yang sudah berulang kali ditayangkan, tentu tinggal duduk manis seraya berkarya dan mengirimkan lagi sampai masa tayang tiba.

Berikut ini alasan mengapa naskah yang dikirim ke Kompas sering kali ditolak. Dalam hal ini khusus untuk rubrik Sastra (Cerpen/Puisi):
1. Ketika penulis sangat lemah dalam mengolah naskah, apalagi tidak mampu membuat kurator terkesan sekaligus tertarik membaca isi naskah tersebut hingga titik akhir, tentu berpeluang besar ditolak. Kurator lebih suka dengan narasi pembuka cerita yang memikat. Penuh kejutan-kejutan atau ledakan imajinasi sehingga memicu hasrat baca. Narasi di paragraf pertama ini dinilai kurator sangat menentukan apakah naskah tersebut layak ditayangkan atau tidak.

2. Selain harus karya asli, naskah harus inovatif, tidak ada kekeliruan ejaan di dalamnya. Editor atau kurator mana pun pasti sangat risih ketika mendapati kekeliruan mendasar ini. Kurator menganggap kekeliruan ejaan sedikit saja menunjukkan bahwa si penulis tidak cermat saat berkarya. Kurator benar-benar tidak menolelir kekeliruan ejaan, bahkan di mata mereka masalah ini amat jorok. Gunakanlah kaidah menulis secara baik dan benar. Kurator sangat menjaga etika berbahasa. Tidak memicu SARA, diskriminasi terhadap kelompok tertentu, atau hal-hal lain yang melanggar norma. Menurut kurator, naskah juga harus dengan tema segar—walaupun tidak dibatasi oleh tema-tema tertentu, dan tidak klise. Mengarah pada kebaruan sastra yang meliputi aspek bahasa, tema, alur, serta teknik menulis yang mumpuni.

3. Berhubung rubrik sastra diberi ruang sangat terbatas, maka naskah maksimal 10.000 karakter. Jika kurang dari itu, atau malah lebih dari itu, besar kemungkinan masuk daftar naskah ditolak. Alasan ini tak lain lebih pada soal tata letak halaman yang diberikan pihak media.

4. Secara spesifik, kurator cenderung memerhatikan hal-hal unik serta lokalitas. Tema urban nyaris tidak ditayangkan alias ditolak.

5. Sangat dianjurkan menggunakan jenis font Times New Roman (TNR), spasi 1, 12 pt. 

6. Sebaiknya kirim 1—2 karya dalam sebulan. Kirimkan karya yang benar-benar sudah matang. Mengirim 1 atau 2 naskah dengan nilai kematangan sempurna tentu jauh lebih baik ketimbang mengirim banyak namun tidak memenuhi kriteria.

7. Hindari penggunaan kata bombas (menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI): bom·bas n 1 ucapan yang baik terdengar, tetapi tidak mengandung arti; omong kosong; 2 Sas ungkapan yang berlebih-lebihan dalam berlakon; bahasa atau kata yang muluk-muluk). Bisa jadi, kata bombas malah membunuh imajinasi yang sedang dibangun penulis di hati pembaca. Lebih baik gunakan gramatikal sederhana dan mudah dipahami pembaca.

8. Ketika membuka awal cerita dengan dialog, berusahalah mempertahankan karakter lakon secara kuat. Jika tidak mampu mempertahankan karakter lakon dengan kuat, maka bukalah dengan narasi. Sangat dianjurkan menggunakan narasi puitis.

9. Gaya menulis apa pun tetap diberi tempat—misal; realisme, surealisme, absurd, ataupun solilokui. Meski dengan gaya bahasa atau pengantar sesuai kehendak penulis, namun kekayaan diksi dan gaya bahasa pengantar dalam naskah sangat diutamakan.

Jika semua kriteria sudah terpenuhi namun masih tetap belum ditayangkan, maka bersabarlah. Bisa jadi naskah masih dalam masa tinjau atau masih dalam daftar antrean. Tiga kurator atau editor—terutama untuk rubrik sastra—wajib membaca naskah yang masuk. Setelah itu mereka membuat nominasi naskah yang berpotensi lolos seleksi. Bahkan dalam sepekan kurator atau editor melakukan sidang guna menentukan naskah mana saja yang layak ditayangkan.

Siapa pun penulis yang mengirim naskah ke media ini tetap diberi kesempatan untuk lolos seleksi atau ditayangkan dengan catatan memenuhi persyaratan di atas. Jadi ... teruslah berkarya dan kirimkan! Jika memang memenuhi persyaratan dan benar-benar berkualitas, tidak menutup kemungkinan ditayangkan.

Baca selengkapnya


CARA KIRIM RESENSI KE JAWA POS

Biasanya orang yang suka meresensi buku pasti gemar membaca apa saja. Hal itu memang menjadi satu kesatuan. Bagaimana mungkin peresensi bisa membuat penilaian terhadap sebuah buku jika ia tak gemar membaca? Sedangkan orang yang suka membaca belum tentu menjadi seorang peresensi. Sebagian peresensi yang sudah sering lolos ditayangkan media, tentu tak mengalami kesulitan terkait proses pengiriman naskah ke meja redaksi. Namun bagi yang belum mengetahui bagaimana mengirim resensi tentu harus memahami terlebih dahulu tata caranya.

Salah satu di antara sekian banyak media yang menyediakan ruang resensi adalah koran JAWA POS. Bagi para penulis resensi yang ingin mengirimkan hasil resensi, berikut ini adalah tata cara mengirimkannya:
1. Siapkan Resensi;
Hal pertama dan utama adalah menyiapkan naskah resensi terlebih dulu. Jika sudah sesuai pedoman, silakan cek ulang sebelum mengirim ke alamat redaktur koran. Cek seluruh isi—terutama soal ejaan—karena editor sangat risih menerima naskah yang di dalamnya masih terdapat kekeliruan—sekecil apa pun kekeliruan tersebut berusahalah untuk memperbaikinya. Bahkan kekeliruan ejaan—di mata kurator—menjadi penyumbang terbesar mengapa naskah ditolak.

2. Format Pengiriman Naskah;
Naskah apa saja yang ingin dikirim usahakan sesuai ketentuan dari media bersangkutan. Tulis dengan format font Times New Roman (TNR) ukuran 12 pt, spasi 1,5 atau spasi ganda. Rata-rata untuk satu resensi berisi 4.000 (empar ribu) kata atau kurang lebih 2 lembar A4. Sertakan di dalam naskah biodata naratif penulis, nomor rekening, nomor pokok wajib pajak (NPWP) jika sudah punya, nomor telepon dan alamat lengkap sesuai KTP.

Berikut ini contoh/draf resensi:

*) JUDUL RESENSI (buat judul semenarik mungkin, sebab hal ini juga berpengaruh pada minat baca terhadap resensi yang sudah dibuat)

*) Format Isi Resensi:
- Judul Buku;
- Pengarang/Penulis;
- Penerbit;
- Ukuran Buku (Dimensi);
- Ketebalan/Jumlah Halaman;
- ISBN;
- Harga Buku.

*) Isi Resensi (narasi pembukaan, hasil pengamatan, penilaian, dan kesimpulan)

*) Biodata Singkat Naratif (Nama, Profesi, Tempat Tinggal—biasanya hanya 2—3 baris)

3. Menulis Kata Pengantar Email;
Sering kali penulis pemula kebingungan soal ini. Perlu diketahui bahwa tiap kali mengirim naskah, penulis harus menulis kata pengantar di badan email, bukan di sisipan atau di dalam naskah. Berikut ini adalah contoh kata pengantar pengiriman naskah:

Kepada Yth.
Dewan Redaksi (Kurator)
di Tempat

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Salam Sejahtera.

Dengan ini saya bermaksud mengirimkan hasil resensi saya atas buku [silakan tulis Judul Buku] kepada pihak Bapak/Ibu Redaktur (Kurator) untuk ditindaklanjuti, dikoreksi, dan ditayangkan. Besar harapan saya untuk bisa dimuat atau ditayangkan pada rubrik yang Bapak/Ibu kelola.

Demikian surat ini saya kirimkan. Ada kurang lebihnya, atau segala sesuatu yang kurang berkenan, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Terima kasih.

Salam.
NAMA PENULIS
ALAMAT PENULIS

4. Kirim ke Alamat Sekaligus dengan Cara yang Tepat;
Langkah berikutnya yang perlu dilakukan adalah mengirimkan resensi tersebut ke alamat yang tepat atau sesuai dengan yang diinginkan.

Perlu diingat, naskah harus dikirim dalam lampiran, bukan di badan email. Jadi harus dibedakan antara bidang Kata Pengantar dengan Isi Naskah. Kata Pengantar ditulis di badan email, sedangkan Isi Naskah diletakkan pada sisipan sesuai nomor 2 di atas.

Untuk pengiriman resensi ke koran JAWA POS bisa ke email ini: ari@jawapos.co.id / ariemetro@yahoo.com

5. Melampirkan Sampul Buku
Sebelum benar-benar mengirim hasil resensi, periksa kelengkapan data termasuk scan sampul depan buku. Silakan lampirkan sampul buku secara terpisah atau dijadikan satu file dalam naskah. Tiap penulis pasti memiliki cara dan pertimbangan masing-masing terkait hal ini, pasalnya masing-masing cara ada sisi lebih dan kekurangannya. Jika scan sampul dimasukkan ke dalam file naskah, risiko tertinggal atau lupa melampirkan sangatlah kecil karena setelah diterima, gambar sampul sudah jadi satu. Kelemahannya adalah kapasitas data atau file menjadi besar dan berdampak pada proses membuka file di komputer redaktur. Sebaliknya, apabila sampul dilampirkan secara terpisah kapasitas file tentu kecil dan mudah dibuka, hanya saja risiko tertinggal atau lupa melampirkan sering kali terjadi. Belum lagi jika ada kendala-kendala teknis lain sehingga sampul tidak bisa dikirimkan. Jadi, mau pilih cara yang mana tentu pihak penulis yang lebih mengetahui.

Setelah naskah terkirim, silakan tunggu apakah resensi tersebut lolos dan ditayangkan atau justru ditolak. Rata-rata, penulis yang mencari sendiri informasi perihal penayangan naskahnya. Apabila tidak mendapat konfirmasi, bisa cek ke media cetak bersangkutan.
Baca selengkapnya


DAFTAR MEDIA YANG MEMBERI BAYARAN TINGGI ATAS KARYA PENULIS

Memilih profesi sebagai seorang penulis saat ini memang cukup menjanjikan. Siapa yang tidak ingin mendapat penghasilan tambahan dari pekerjaan pokok sekaligus popularitas? Selain bisa menyalurkan bakat, ide, dan menambah wawasan, menulis juga bisa mendatangkan penghasilan. Ya, jika Anda memiliki bakat menulis, mengirim naskah ke media massa adalah salah satu cara untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Namun perlu dicermati bahwa tidak semua media yang menerima naskah memberi honorium. Penulis harus benar-benar mencermati hal ini agar kelak tidak kecewa setelah mengirim naskah dan berhasil dipublikasikan oleh media massa yang ternyata tidak berhonor. Selain itu, perlu dipahami juga bahwa tiap media memiliki kebijakan serta honorium berbeda-beda.

Adapun daftar media yang benar-benar terbukti memberi honorium atas karya yang dipublikasikan adalah sebagai berikut.

1. KOMPAS 
Honorium yang diberikan untuk rubrik cerpen kurang lebih Rp.1.400.000,- / cerpen. Sedangkan untuk rubrik puisi kurang lebih Rp.550.000,- / penulis. 

2. MEDIA INDONESIA 
Honorium yang diberikan untuk rubrik cerpen kurang lebih Rp.705.000 / cerpen. Sedangkan untuk rubrik puisi kurang lebih Rp. 625.000 / penulis. 

3. TEMPO 
Honorium yang diberikan untuk rubrik cerpen kurang lebih Rp.750.000,- / cerpen. Sedangkan untuk rubrik puisi kurang lebih Rp.600.000,- / penulis. 

4. JAWA POS 
Honorium yang diberikan untuk rubrik cerpen kurang lebih Rp.925.000,- / cerpen. Sedangkan untuk rubrik puisi kurang lebih Rp.725.000,- / penulis. 

5. SOLOPOS 
Honorium yang diberikan untuk rubrik cerpen kurang lebih Rp.300.000,- / cerpen. Sedangkan untuk rubrik puisi kurang lebih Rp.100.000,- / penulis. 

6. HARIAN RAKYAT SULTRA 
Honorium yang diberikan untuk rubrik cerpen kurang lebih Rp.250.000,- / cerpen. Sedangkan untuk rubrik puisi kurang lebih Rp.150.000,- / penulis. 

7. KEDAULATAN RAKYAT 
Honorium yang diberikan untuk rubrik cerpen kurang lebih Rp.300.000,- / cerpen. Sedangkan untuk rubrik puisi kurang lebih Rp. 150.000,- / penulis. 

8. PIKIRAN RAKYAT 
Honorium yang diberikan untuk rubrik cerpen kurang lebih Rp.300.000,- / cerpen. Sedangkan untuk rubrik puisi kurang lebih Rp.200.000,- / penulis. 

9. REPUBLIKA 
Honorium yang diberikan untuk rubrik cerpen kurang lebih Rp.395.000,- / cerpen. Sedangkan untuk rubrik puisi kurang lebih Rp.100.000,- / penulis. 

10. RADAR SURABAYA 
Honorium yang diberikan untuk rubrik cerpen kurang lebih Rp.200.000,- / cerpen. Sedangkan untuk rubrik puisi kurang lebih Rp.52.000,- / penulis. 

11. SUARA MERDEKA 
Honorium yang diberikan untuk rubrik cerpen kurang lebih Rp.300.000,- / cerpen. Sedangkan untuk rubrik puisi kurang lebih Rp.150.000,- / penulis. 

12. PADANG EKSPRES 
Honorium yang diberikan untuk rubrik cerpen kurang lebih Rp.150.000—200.000,- / cerpen. Sedangkan untuk rubrik puisi kurang lebih Rp.125.000,- / penulis. 

13. ANALISA 
Honorium yang diberikan untuk rubrik cerpen kurang lebih Rp.150.000,- / cerpen. Sedangkan untuk rubrik puisi kurang lebih Rp.25.000,- / penulis. 

14. KORAN MERAPI 
Honorium yang diberikan untuk rubrik cerpen kurang lebih Rp.100.000,- / cerpen. Sedangkan untuk rubrik puisi kurang lebih Rp.75.000,- / penulis. 

15. SERAMBI INDONESIA 
Honorium yang diberikan untuk rubrik cerpen kurang lebih Rp.100.000,- / cerpen. Sedangkan untuk rubrik puisi kurang lebih Rp.50.000,- / penulis. 

16. HALUAN 
Honorium yang diberikan untuk rubrik cerpen kurang lebih Rp.100 ribu,- / cerpen. Sedangkan untuk rubrik puisi kurang lebih Rp.75.000,- / penulis.

17. LAMPUNG POS 
Honorium yang diberikan untuk rubrik cerpen kurang lebih Rp.250.000,- / cerpen. Sedangkan untuk rubrik puisi kurang lebih Rp.150.000,- / penulis. 

18. MINGGU PAGI 
Honorium yang diberikan untuk rubrik cerpen kurang lebih Rp.150.000,- / cerpen. Sedangkan untuk rubrik puisi kurang lebih Rp.70.000,- / penulis. 

19. SUARA NTB 
Honorium yang diberikan untuk rubrik cerpen kurang lebih Rp.100.000,- / cerpen. Sedangkan untuk rubrik puisi kurang lebih Rp.25.000,- / penulis. 

Adapun transfer honorium, tiap media memiliki kebijakan yang sangat beragam. Rata-rata sebulan setelah pemuatan / publikasi sudah ditransfer. Namun ada juga yang seminggu setelah dimuat honorium ditransfer ke rekening penulis. Terkadang ada pula media yang pencairan honoriumnya harus konfirmasi terlebih dulu.

Nah, Anda tertarik? Silakan menulis dan kirim ke media. Siapa tahu karya Anda layak dipublikasikan dan mendapat honorium.[]

Baca selengkapnya